Masa Depan Redenominasi Rupiah dan Pemilihan Gubernur Bank Indonesia

Diposting pada

Selama kurang lebih satu ini, isu redenominasi rupiah cukup menarik perhatian masyarakat indonesia pada umumnya, dan pelaku bisnis serta ekonom pada khususnya.

(www.bi.go.id)
(www.bi.go.id)

Bank Indonesia bersama dengan Kementerian Keuangan sudah melakukan sosialisasi sejak akhir Januari lalu untuk rencana redenominasi. Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa redominasi bukanlah pemangkasan nilai mata uang (sanering).

Jadi redenominasi merupakan penyederhanaan jumlah digit pada denominasi atau pecahan rupiah tanpa mengurangi daya beli, harga atau nilai tukar rupiah terhadap barang atau jasa.

Secara lugas, program ini adalah untuk mengurangi tiga nol dibelakang uang rupiah. Contohnya, uang nominal Rp 100 ribu. Setelah redenominasi menjadi Rp 100, tanpa menurunkan nilai uangnya sendiri.

Tapi selama beberapa minggu ini ada lagi muncul isu pemilihan calon Bank Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun sudah mengajukan calon tunggal yaitu Agus Martowardojo yang saat ini menjabat sebagai Menteri Keuangan.

Proses pemilihan calon Gubernur Bank Indonesia ini akan memasuki tahapan fit and proper test (uji kelayakan dan kepatutan) yang akan dilakukan pada tanggal 25 Maret 2013.

Seiring dengan hal itu, maka banyak pengamat dan masyarakat yang bertanya-tanya tentang program redenominasi rupiah. Apakah dengan proses pemilihan calon Gubernur Bank Indonesia akan mempengaruhi program redenominasi rupiah? apakakah program tersebut akan berjalan lebih cepat, atau lebih lambat?

Menurut prediksi dari pengamat Ekonomi Aris Yunanto,  kebijakan penyederhanaan nominal mata uang atau redenominasi rupiah akan diteruskan apabila Agus Martowardojo terpilih menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI) periode lima tahun mendatang.

Tapi menurut Aris Yunanto, proses redenominasi rupiah oleh Agus akan lebih disesuaikan waktu pelaksanaannya. Karena pernah sebelumnya Agus Martowaroyo yang menjabat sebagai Menteri Keuangan menghimbau agar BI dapat melakukan penyesuaian waktu implementasi redenominasi.

Aris Yunanto pun menambahkan bahwa proses redenominasi memang sepertinya tidak didukung penuh oleh Pak Agus. Karena beliau pernah menyarankan penyesuaian waktu pelaksanaan redenominasi tersebut.

Menurut pertimbangan Aris Yunanto bahwa jika Agus Marto menjabat Gubernur BI nanti, maka waktu realisasi redenominasi pasti disesuaikan utuk menjadi lebih baik lagi.

Tapi ada pendapat lain yang disampaikan oleh pengamat ekonomi dari Universitas Gajah Mada yaitu Tony Prasetyantono yang menyatakan bahwa Gubernur Bank Indonesia saat ini yaitu Darmin Nasution lebih layak melanjutkan jabatannya di Bank Sentral atau Bank Indonesia.

Alasan dan fakta yang disampaikan Tony adalah karena Pak Darmin Nasution sudah fokus sejak awal dalam perencanaan dan proses realisasi redenominasi.

Oleh karena itu Tony Prasetyantono lebih menyarakankan Agus Martowardojo tetap menjabat sebagai Menteri Keuangan. Sementara Darmin Nasution tetap menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Hal ini adalah kesimpulan dari Tony yang sudah lama menilai bahwa kinerja Darmin Nasution sebagai Guburnur BI adalah baik. Demikian juga Kinerja Agus Marto sebagai Menteri Keuangan juga baik.

Karena sama-sama mempunyai kinerja yang baik, maka lebih baik dilanjutkan saja. Supaya ada kesinambungan program-program jangka mengengah dan jangka panjang.

Apalah Kementrian Keuangan dan Bank Indonesia sudah merencanakan dan mempersiapkan rencana jangka panjang 10 tahun untuk redenominasi rupiah.