Mengenal Ikebana, Seni Merangkai Bunga nan Indah Gaya Jepang

Tim Organisasi Asgar Menelusuri Keindahan Jepang

Ikebana, Seni Merangkai Bunga nan Indah Mengenal Ikebana, Seni Merangkai Bunga nan Indah Gaya Jepang

Merangkai bunga adalah suatu kegiatan yang menggembirakan, banyak negara yang mempraktekkan seni merangkai bunga dari hari ke hari.

Dari Jepang, ada Ikebana yang saat ini telah meluas ke seluruh dunia. Lebih dari sekedar menempatkan bunga dalam wadah, ikebana adalah bentuk seni disiplin di mana alam dan kemanusiaan dibawa bersama-sama.

Banyak yang bertanya tentang apa, bagaimana, darimana, kapan dan siapa yang menciptakan seni ikebana ini. Untuk itu, Organisasi Asgar akan memberi paparan sebagai berikut.

Arti dan makna Ikebana

Ikebana adalah salah satu bentuk seni Jepang, yang merupakan keterampilan dalam merangkai bunga rumput-rumputan dan tanaman dengan tujuan untuk dinikmati keindahannya.

Dalam aksara Bahasa Jepang, Ikebana ini dengan huruf hiragana ditulis いけばな, dengan romaji ditulis “ikebana”, serta dalam huruf kanji ditulis 生け花.

Dalam bahasa Jepang, Ikebana juga populer dengan istilah kadō (華道?, ka, bunga; do, jalan kehidupan) yang lebih menekankan pada aspek seni untuk mencapai pesona indah dalam merangkai bunga.

Ada Makna Ritual dalam Ikebana

Aspek spiritual dari ikebana dianggap sangat penting untuk praktisi. Diam adalah suatu keharusan selama praktek ikebana. Ini adalah waktu untuk menghargai hal-hal di alam yang orang sering mengabaikan karena kehidupan bagi orang-orang yang sibuk.

Seseorang akan menjadi lebih sabar dan toleran terhadap perbedaan, tidak hanya di alam, tetapi juga pada umumnya.

Ikebana dapat menginspirasi seseorang untuk mengidentifikasi dengan keindahan dalam segala bentuk seni. Ini juga merupakan saat ketika seseorang merasa kedekatan dengan alam yang menyediakan relaksasi bagi pikiran, tubuh, dan jiwa.

Asal-usul dan Sejarah Ikebana

Jika ada yang bertanya tentang tempat asal ikebana, sebenarnya asal tepat dari Ikebana tidak diketahui. Persembahan bunga di altar untuk menghormati Buddha adalah bagian dari ibadah.

Ikebana berevolusi dari praktik Buddha yang menawarkan bunga kepada roh-roh orang mati. Gaya klasik pertama Ikebana mulai di pertengahan abad kelima belas; siswa pertama dan guru dari Ikebana adalah pendeta Buddha dan anggota.

Seiring waktu berlalu, sekolah lain muncul, gaya berubah, dan Ikebana menjadi kebiasaan di kalangan masyarakat Jepang.

Sedangkan jika kita ingin menelusuri sejarah, yang berdasarkan literatur klasik seperti Makura no sōshi yang bercerita tentang adat istiadat Jepang, tradisi mengagumi bunga melalui cara memotong tangkai dari sekuntum bunga sudah dimulai sejak zaman Heian.

Pada tahap awal, bunga diletakkan di dalam wadah yang telah ada sebelumnya dan setelah itu baru dibuatkan wadah khusus untuk vas bunga.

Ikebana yang kita kenal dalam bentuk seperti saat ini baru dimulai para biksu di kuil Chōhōji Kyoto pada pertengahan zaman Muromachi.

Kemudian para biksu kuil Chōhōji tadi secara turun temurun tinggal di kamar (bō) di pinggir kolam (ike), sehingga aliran baru Ikebana yang dimulainya disebut aliran Ikenobō.

Jenis Gaya Ikebana

Secara umum, ikebana dibagi dalam 3 gaya dalam Ikebana, sebagai berikut

  • Rikka (Standing Flower), merupakan gaya tradisional ikebana yang sering dipergunakan untuk perayaan keagamaan. Ciri khasnya adalah menampilkan keindahan landscape tanaman. Rikka berkembang sekitar awal abad 16. Keutamaan Rikka adalah: shin, shin-kakushi, soe, soe-uke, mikoshi, nagashi dan maeoki
  • Shoka, adalah gaya ikebana yang tidak terlalu formal tapi masih tradisional. Shoka berfokus pada bentuk asli tumbuhan. Pada prakteknya, ada 3 unsur utama dalam gaya Shoka yaitu : shin, soe, dan tai. Setelah terjadi Restorasi Meiji 1868, gaya ini lebih berkembang karena adanya pengaruh Eropa Nageire arti bebasnya “dimasukan” (rangkaian dengan vas tinggi dengan rangkaian hampir bebas) dan Moribana. rangkaian menggunakan wadah rendah dan mulut lebar). Kemudian pada tahun 1977 lahir gaya baru yaitu Shoka Shimputai, yang lebih modern, yang mempunyai 2 unsur utama yaitu shu dan yo, dan unsur pelengkapnya, ashirai.
  • Jiyuka, merupakan gaya Ikebana yang bersifat bebas dimana rangkaiannya berdasarkan kreativitas serta imaginasi. Jiyuka berkembang setelah perang dunia ke-2. Ada banyak improvisasi dalam gaya ini, karena dapat mempergunakan kawat, logam dan batu secara menonjol.

Ikebana dewasa ini

Di negara asalnya di Jepang, Ikebana ditampilkan di televisi dan diajarkan di sekolah. Contoh dari acara televisi yang melibatkan ikebana adalah Seikei Bijin (Artificial Beauty). Cerita menggabungkan pentingnya keindahan alam. Hal itu juga disebutkan dalam We Love Katamari yang terdapat di Play Station 2 atau PS2.