Kesehatan Mental dapat Dianalisis Melalui Cara Bicara

Tim Kesehatan Organisasi Asgar

Kesehatan Mental dapat Dianalisis Melalui Cara Bicara

Dalam hidup yang makin keras, masalah kesehatan mental adalah salah satu hal yang sering menjadi perhatian serius bagi banyak orang, baik di rumah tangga, maupun di perusahaan.

Mendeteksi dan Mendiagnosis Kesehatan Mental

Sebelum menerima seorang karyawan atau pekerja, sebuah perusahaan merasa perlu untuk mengetahui kesehatan mental dari calon karyawan yang akan mereka terima.

Penemuan Program Baru

Melalui serangkaian hasil penelitian, telah dikembangkan sebuah program yang dapat menganalisis cara bicara dan menggunakannya untuk memperoleh informasi tentang kesehatan mental seseorang dalam bekerja.

Ide untuk mengembangkan alat tersebut datang ketika para peneliti, termasuk seorang ilmuwan asal India dari University of Maryland di Amerika Serikat telah menemukan

bahwa fitur vokal tertentu berubah karena perasaan pasien ketika mengalami depresi yang memburuk.

“Sistem ini bisa memantau baik gejala fisik dan psikologis penyakit mental secara teratur dan memberikan informasi baik kepada

pasien dan kepada penyedia layanan kesehatan mental, melalui umpan balik tentang status mereka”. Demikian disampaikan oleh para peneliti.

Tim peneliti ini juga telah mempresentasikan temuan mereka pada the 168th meeting of the Acoustical Society of America (ASA) di Indianapolis.

Proses dan Metode Penelitian

Untuk melakukan percobaan kuantitatif pada karakteristik vokal depresi, seorang acoustician yang bernama Carol Espy-Wilson dan rekan-rekannya kembali melakukan

studi dataset yang dikumpulkan dari studi mulai dari tahun 2007 yang berasal dari laboratorium terafiliasi juga menyelidiki hubungan antara depresi dan pola bicara dan pidato.

Para peneliti menggunakan data dari enam pasien, yang selama enam minggu dari studi sebelumnya telah terdaftar sebagai yang tertekan selama beberapa minggu dan juga beberapa orang yang tidak tertekan.

Mereka membandingkan pola bicara pasien ini setiap minggu dan menemukan korelasi antara depresi dan sifat akustik tertentu.

Ketika perasaan pasien depresi yang terburuk, bicara mereka cenderung terengah-engah dan lambat.

“Kami juga menemukan peningkatan jitter dan shimmer, yaitu dua langkah gangguan akustik yang mengukur frekuensi dan variasi amplitudo suara, secara masing-masing.

Cara bicara yang memiliki jitter dan shimmer yang tinggi, maka cenderung akan terdengar serak atau kasar” tambah Espy-Wilson.

Para peneliti berencana untuk mengulang penelitian pada populasi yang lebih besar, membandingkan pola bicara pada

orang yang tidak memiliki riwayat penyakit mental bagi mereka yang mengalami depresi untuk membuat profil yang khas cara bicara saat depresi.

Sebuah aplikasi ponsel bisa menggunakan informasi ini untuk menganalisis cara bicara pasien, dan mengidentifikasi tanda akustik depresi dan memberikan umpan balik dan dukungan.

Demikianlah informasinya, semoga bermanfaat